Meriahnya Festival Rebo Wekasan: Tradisi Unik Karawangbarat yang Tetap Bertahan
Festival Rebo Wekasan di Karawangbarat tetap hidup dengan ragam tradisi unik, dari kirab budaya hingga sajian kuliner khas, menarik ribuan pengunjung setiap tahun.

Ringkasan Cepat (Key Facts)
- Digelar setiap Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriyah.
- Menampilkan kirab budaya dengan peserta dari berbagai desa di Karawangbarat.
- Menjadi ajang pelestarian kesenian lokal seperti wayang golek dan tari topeng.
- Kuliner khas seperti nasi jamblang dan sate maranggi menjadi daya tarik utama.
- Tahun 2025–2026, festival ini diperkirakan menarik lebih dari 20.000 pengunjung.
Asal Usul dan Makna Spiritual
Rebo Wekasan, atau Rabu Pungkasan, merupakan tradisi turun-temurun di Karawangbarat yang berakar dari kepercayaan masyarakat akan pentingnya tolak bala di hari terakhir bulan Safar. Menurut sesepuh setempat, Ki Mursidin, festival ini awalnya digelar sebagai bentuk syukur sekaligus permohonan perlindungan dari bencana. Hingga kini, ritual seperti pembacaan doa bersama dan penyebaran beras kuning masih menjadi bagian tak terpisahkan dari acara.
Ragam Aktivitas yang Memeriahkan
Puncak acara selalu diwarnai kirab budaya sepanjang 3 km dari Balai Desa Karawangbarat menuju Alun-Alun. Tahun 2025, kirab menampilkan 15 kelompok seni, termasuk barongsai hasil kolaborasi warga Tionghoa setempat. Di alun-alun, pengunjung bisa menikmati pertunjukan wayang golek dengan dalang kondang Asep Sunarya Sunsun, serta bazar kuliner yang menjual nasi jamblang seharga Rp15.000 per porsi dan sate maranggi Rp25.000 per tusuk.
Dampak Ekonomi dan Tantangan Pelestarian
Kepala Dinas Pariwisata Karawangbarat, Tati Rohayati, menyebut festival ini menyumbang peningkatan ekonomi lokal hingga 40% selama pekan penyelenggaraan. Namun, generasi muda mulai kurang tertarik mempelajari detail ritual. Untuk itu, tahun 2026 akan digalakkan workshop pembuatan beras kuning dan lomba konten kreatif bertema Rebo Wekasan di media sosial.
Orang Juga Bertanya
Kapan tepatnya Festival Rebo Wekasan 2026 digelar?
Jadwal pasti menunggu keputusan Pemkab, tetapi biasanya jatuh pada Rabu terakhir Februari atau awal Maret sesuai kalender Hijriyah.
Apa transportasi umum yang bisa digunakan menuju lokasi?
Dari Terminal Karawang, naik angkot K02 (Rp5.000) turun di Pertigaan Karawangbarat, lalu jalan kaki 10 menit ke alun-alun.
Apakah ada biaya masuk untuk mengikuti festival?
Gratis, kecuali untuk konsumsi dan parkir kendaraan pribadi (Rp3.000 untuk motor, Rp10.000 untuk mobil).
Apa yang membedakan Rebo Wekasan Karawangbarat dengan daerah lain?
Kolaborasi unik antara ritual Islam dengan kesenian Sunda-Betawi, serta kehadiran kuliner khas seperti sate maranggi bumbu kecap yang tidak ditemukan di versi festival serupa.